Minggu, 15 Januari 2012

Mama itu sama dengan sekolah (bagian 1)

Pernyataan di atas sebenarnya sudah lama sekali ada. Pepatah tersebut merupakan terjemahan dari kata mutiara “Al Um Madrasah”. Kata mutiara ini, bagi saya, hanya untuk dihafal selanjutnya untuk menjawab soal tes yang jangan-jangan kata mutiara tersebut ditanyakan waktu ujian. Pemaknaan kata mutiara ini sangat berbeda ketika saya menjadi seorang ayah dari dua anak yang keduanya perempuan. Ternyata seorang mama atau ibu sangat berpengaruh pada anak. Pengaruh tersebut bisa berupa fisik dan juga bisa berupa nonfisik. Secara fisik anak-anak saya memang lebih “dekat” kepada mamanya. Barangkali kesamaan fisik saya dengan anak-anak yang paling meonjol adalah adanya kesamaan telinga saya dengan meraka, yang sama-sama lebar. Selebihnya “tidak ada”. Sampai-sampai teman-teman dekat saya berseloroh:

“Mana kontribusimu terhadapa anak-anak?”

Seloroh itu saya anggap biasa saja, seraya saya balas “jangan salah kawan, lihat telinga mereka, itu saham saya yang melekat pada mereka”.

Peran mama sebagai sekolah sebenarnya sudah dimulai ketika janin anak sudah melekat pada rahimnya. Kesiapan dia menerima makhluk baru dalam tubuhnya merupakan modal yang luar biasa untuk menjadikan anak sebagai mutiara hati. Hamil merupakan kondisi seseorang yang “dipaksa” untuk menerima makhluk lain menempel pada salah satu organ tubuhnya. Akibatnya, seorang mama yang hamil akan muntah, merasa nek, stress dan banyak keaadaan psikologis yang terasa tidak nyaman untuk dirasakan. Maka tidak berlebihan bila seorang mama yang merasa hepi waktu hamil, ibarat sekolah yang hepi dan terbuka pada muridnya. Dan begitu pula sebaliknya bila seorang mama tidak hepi terhadap jabang bayinya, ibarat sekolah yang terpaksa menerima murid yang tidak dikehendakinya. Saya yakin seorang mama yang hepi waktu menerima kehamilam calon bayinya, akan berpengaruh pada “kehepian” anak di rahim mamanya.

Rasanya beda jabang bayi yang ditunggu kedatangannya dengan jabang bayi yang tidak dikendaki kehadirannya. Tentu, bedanya terletak pada cara penyikapan seorang mama terhadap kehadiran jabang bayi tersebut. Penyikapan ini bisa saja diilustrasikan pada diri kita sendiri. Bagaimana rasanya kalau kedatangan kita ke rumah, umpamanya, dianggap sebagai ayah yang pahlawan, dan bagaimama pula rasanya bila kehadiran kita di rumah difahami oleh anggota keluarga sebagai biang keladi pembuat masalah. Keadaan kedua pasti tidak nyaman karena nampak ketidakharmonisan antara kita dengan anggota keluarga.

Peran mama sebagai madrasah berikutnya adalah kesedian dan keikhlasannya dalam memberi ASI (air susu ibu) pada jabang bayinya. Tidak semua mama bersedia member ASI pada anak-anaknya dengan berbagai alasan, diantaranya tidak keluar ASI, malas, atau bahkan ada yang takut kalau bentuk “properti” seorang mama menjadi jelek dan tidak memenuhi kriteria estetis lagi sesuai tuntutan perempuan modis. Padahal menurut penelitian memberi ASI pada bayi mengurangi stress bayi. Dan secara psikologis, bayi yang mendapat ASI dari mamanya akan lebih dekat, lebih kebal dari penyakit, dan pasti lebih bahagia.

Saya sangat yakin “sekolah” yang berupa memberi ASI ini mengajarkan pada bayi bahwa besuk di kemudian hari ketika dia berperan sebagai mama akan meneladani mamanya yang dengan sukarela juga memberi ASI. Memberi ASI sama dengan memberi kehangatan dan perlindungan pada bayi, melatih kesabaran, karena tidak mungkin bisa memberi ASI tanpa berlaku sabar.

3 s (Tiga S)

3 s singkatan dari senyum, salam, sapa. Semboyan ini saya baca dari dinding gedung kuliah. Semboyan ini pula mengingatkan saya pada keluhan seorang kawan yang merasa bahwa teman-temannya yang sudah memangku jabatan tertentu menjadi berbeda, tidak seperti dulu sebelum mendapatkan jabatan. Sejauh ini kawan saya masih terheran-heran dengan sikap beberapa temannya itu yang terasa lebih tidak ramah, hingga suatu hari dia terang-terangan menyampaikan isi hatinya dengan mengatakan

“Ibu Mawar (bukan nama asli) kog sekarang pelit senyum sih?”

Bu Mawar tidak merespon dengan senyuman atau dengan kata-kata tertentu. Dia hanya melotot seperti orang emosi seraya meninggalkan tempat dia bertemu dengan kawan saya.

Kawan saya tidak heran dengan reaksi temannya, yang justru mengherankan baginya adalah kenapa temannya itu masih tidak bisa membuka senyum barang sedikitpun. Barang kali aja senyum itu seberat berbagi harta dalam jumlah besar gumamnya. Hingga suatu hari Bu Mawar datang kepada kawan saya seraya bilang:

“Terima kasih Pak Telah mengingatkan saya untuk senyum”

“Nah gitu lho Bu, ada senyumnya, mosok baru jadi pejabat terus lupa senyum. Ntar kalau jabatannya lebih tinggi, pasti lebih mahal dong senyumnya”.

Penggalan kisah di atas merupakan salah satu contoh bahwa kadang kita melupakan jati diri kita yang sebenarnya sebagai makhluk yang humanis pada orang lain. Hanya atas nama kerja mencari uang kadang-kadang menjadikan kita lupa akan senyum. Bisa dibayangkan kalau lupa senyum, apa yang membedakan antara kita dengan robot. Jangan-jangan kita sudah menjadi robot dalam keseharian, sementara pada hari libur kita menjadi manusia kembali.

Ya wajarlah gelar robot melekat pada kita selama kita tidak membedakan diri dengan makhluk bikinan orang tersebut. Maka tidak berlebihan bila semboyan di atas mengingatkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari hendaknya kita peduli pada orang lain. Senyum merupakan cara yang paling dasyat untuk menjadikan suasana menjadi hangat dan akrab pada siapa saja. Saya yakin bahwa senyum tidak akan melunturkan wibawa seseorang, termasuk seseorang yang memiliki jabatan penting sekalipun. Kalau perlu, kita men-setting senyum untuk mengurangi beban kerja yang mesti diselesaikan.

Tidak berlebihan bila ajaran agama menjadikan senyum sebagai sedekah atau amal perbuatan positif yang konstruktif. Konstruktif bagi diri yang bersangkutan dan positif bagi orang lain.

Menurut penelitian Dr. Dewi Matindas (psikolog), seperti dimuat dalam http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/03/23/senyum-antara-menyehatkan-dan-tidak/, senyum merupakan pertanda bahwa seseorang siap dan terbuka untuk orang lain. Senyum ini juga menunjuk bahwa seseorang memiliki kemampuan interpersonal yang baik.

Senyum juga berdampak pada pengurangan tingkat stress, peningkatan pada kekebalan tubuh dan pastinya senyum menunujukkan rasa optimis dari pribadi yang bersangkutan. So, tersenyumlah.

Plagiarism / Plagiasi


Perpustakaan merupakan tempat yang paling banyak menyimpan karya-karya akademik. Karya akademik merupakan karya yang dihasilkan oleh masyarakat akademik. Karya-karya tersebut adalah karya akhir mahasiswa yang meliputi skripsi, tesis, dan disertasi. Disamping ketiga karya-karya tersebut, masih ada karya lain yang tidak kalah penting nilai ilmiahnya yaitu makalah dalam prosiding konferensi, dan hasil penelitian.

Karya akhir mahasiswa, makalah dan juga hasil penelitian perlu dikumpulkan, kemudian diolah sedemikian rupa agar nantinya bisa ditemu kembali guna keperluan ilmiah juga. Ide pengumpulan karya-karya tersebut di perpustakaan tidak serta merta hanya menjaga fisiknya dari kerusakan, tapi juga menjaga informasinya agar memberi kemanfaatan pada pembaca atau peneliti. Dengan membaca, seseorang akan terkayakan wacananya terkait bidang yang menjadi perhatiannya, sementara peneliti pemula bisa melihat subyek apa saja yang pernah diteliti agar tidak mengulangi penelitian yang persis sama, ataupun bisa melanjutkan penelitian yang dulunya belum sempurna.

Tidak berlebihan bila seorang ilmuwan terkemuka Sir Isaac Newton pernah mengatakan “JIka saya melihat lebih jauh, itu Karena saya berada di atas bahu para raksasa”. Maksud pesan tersebut adalah bahwa Newton bukan menemukan semua teori-teori ilmiah yang ada, tapi dia bisa menemukan teori ataupun formula baru dalam sebuah teori ilmiah, karena dia sudah membaca banyak literatur penting yang pernah ditulis atau disimpan di perpustakaan.

Untuk menjaga dan menyebarkan informasi ilmiah termasuk di dalamnya karya akhir mahasiswa, Perpustakaan perlu mendigitalkan karya-karya tersebut. Ide digitalisasi ini sederhana saja bahwa semua karya ilmiah hendaknya bisa dibaca oleh siapa, yang tidak terbatasi oleh batasan geografis negara. Bila tersedia dalam cetakan saja, tentu bahan ilmiah tersebut hanya bisa dibaca oleh pengguna yang mendatangi gedung perpustakaan saja.

Sebagian dari akademisi menghawatirkan kebijakan digitalisasi bahan perpustakaan. Mereka beralasan bahwa digitalisasi akan membuka peluang plagiasi selebar-lebarnya pada semua orang. Mereka cemas bila pembaca mengambil karya-karya tersebut sebagai hasil karya mereka, padahal karya tersebut milik orang lain. Alasan ini tidak berlebihan sebab ada banyak kasus yang memang mengambil skripsi digital yang diakui sebagai skripsi karyanya. Barangkali yang tidak disadari oleh pelaku plagiasi adalah bahwa perpustakaan digital bukan tanpa jejak. Semua karya akhir yang ada di perpustakaan digital memiliki jejak. Jejak itu berupa data bibliografi karya akhir tersebut, termasuk di dalamnya tanggal disahkannya sebuah karya akhir. Data-data ini bisa digunakan untuk membuktikan keaslian dan kepalsuan sebuah karya akhir bila ada dua atau lebih karya akhir yang sama.

Perpustakaan digital memungkinkan seseorang melakukan plagiasi, tapi di saat yang sama pula, perpustakaan digital bisa membantu dalam pembuktian karya yang asli. Para pembaca, nantinya, akan bisa menilai dan menghakimi bila ada karya yang sama, bahwa pasti salah satunya adalah palsu.

Dalam pergaulan di kampus plagiasi adalah menggunakan ide orang lain atas nama diri sendiri. Kegiatan akademik selalu mengajarkan kejujuran, termasuk dalam tulis menulis. Bila seseorang mendapat ide atau menggunakan pendapat orang lain, maka seharusnya dia mencantumkan nama pencetus ide sebagai rasa penghormatan pada penulisnya, dengan cara menggunakan sitasi yang benar. Bila seseorang menggunakan karya tulisan orang lain sebagai hasil karyanya, maka sebenarnya dia sudah melakukan plagiasi.

Menurut pasal 1 butir 1 Peratutan Menteri Pendidikan Nasional no. 17 tahun 2010, menjelaskan

“Plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai”

Isi pasal di atas menegaskan bahwa tidak dibenarkan mengambil karya orang lain sebagai karya milknya. Seseorang dibolehkan untuk mengambil pendapat orang lain dengan catatan bahwa pengambilan itu merupakan kutipan/sitasi (citation) yang dilakukan dengan suatu kaidah ilmiah juga.

So, mari mencoba semaksimal mungkin untuk tidak melakukan plagiasi karena karya yang dihasilkan seseorang akan selalu dibaca banyak orang termasuk anak cucu di masa mendatang. Cara yang terbaik dalam menghindari plagiasi adalah hendaknya setiap dari kita percaya diri terhadap tulisan sendiri. Yang penting tulisan tersebut sesuai dengan kaidah ilmiah dan bukan karya orang lain yang diatasnamakan diri sendiri. Maka tidak berlebihan untuk mengatakan “Say no to plagiarism”.