Pernyataan di atas sebenarnya sudah lama sekali ada. Pepatah tersebut merupakan terjemahan dari kata mutiara “Al Um Madrasah”. Kata mutiara ini, bagi saya, hanya untuk dihafal selanjutnya untuk menjawab soal tes yang jangan-jangan kata mutiara tersebut ditanyakan waktu ujian. Pemaknaan kata mutiara ini sangat berbeda ketika saya menjadi seorang ayah dari dua anak yang keduanya perempuan. Ternyata seorang mama atau ibu sangat berpengaruh pada anak. Pengaruh tersebut bisa berupa fisik dan juga bisa berupa nonfisik. Secara fisik anak-anak saya memang lebih “dekat” kepada mamanya. Barangkali kesamaan fisik saya dengan anak-anak yang paling meonjol adalah adanya kesamaan telinga saya dengan meraka, yang sama-sama lebar. Selebihnya “tidak ada”. Sampai-sampai teman-teman dekat saya berseloroh:
“Mana kontribusimu terhadapa anak-anak?”
Seloroh itu saya anggap biasa saja, seraya saya balas “jangan salah kawan, lihat telinga mereka, itu saham saya yang melekat pada mereka”.
Peran mama sebagai sekolah sebenarnya sudah dimulai ketika janin anak sudah melekat pada rahimnya. Kesiapan dia menerima makhluk baru dalam tubuhnya merupakan modal yang luar biasa untuk menjadikan anak sebagai mutiara hati. Hamil merupakan kondisi seseorang yang “dipaksa” untuk menerima makhluk lain menempel pada salah satu organ tubuhnya. Akibatnya, seorang mama yang hamil akan muntah, merasa nek, stress dan banyak keaadaan psikologis yang terasa tidak nyaman untuk dirasakan. Maka tidak berlebihan bila seorang mama yang merasa hepi waktu hamil, ibarat sekolah yang hepi dan terbuka pada muridnya. Dan begitu pula sebaliknya bila seorang mama tidak hepi terhadap jabang bayinya, ibarat sekolah yang terpaksa menerima murid yang tidak dikehendakinya. Saya yakin seorang mama yang hepi waktu menerima kehamilam calon bayinya, akan berpengaruh pada “kehepian” anak di rahim mamanya.
Rasanya beda jabang bayi yang ditunggu kedatangannya dengan jabang bayi yang tidak dikendaki kehadirannya. Tentu, bedanya terletak pada cara penyikapan seorang mama terhadap kehadiran jabang bayi tersebut. Penyikapan ini bisa saja diilustrasikan pada diri kita sendiri. Bagaimana rasanya kalau kedatangan kita ke rumah, umpamanya, dianggap sebagai ayah yang pahlawan, dan bagaimama pula rasanya bila kehadiran kita di rumah difahami oleh anggota keluarga sebagai biang keladi pembuat masalah. Keadaan kedua pasti tidak nyaman karena nampak ketidakharmonisan antara kita dengan anggota keluarga.
Peran mama sebagai madrasah berikutnya adalah kesedian dan keikhlasannya dalam memberi ASI (air susu ibu) pada jabang bayinya. Tidak semua mama bersedia member ASI pada anak-anaknya dengan berbagai alasan, diantaranya tidak keluar ASI, malas, atau bahkan ada yang takut kalau bentuk “properti” seorang mama menjadi jelek dan tidak memenuhi kriteria estetis lagi sesuai tuntutan perempuan modis. Padahal menurut penelitian memberi ASI pada bayi mengurangi stress bayi. Dan secara psikologis, bayi yang mendapat ASI dari mamanya akan lebih dekat, lebih kebal dari penyakit, dan pasti lebih bahagia.
Saya sangat yakin “sekolah” yang berupa memberi ASI ini mengajarkan pada bayi bahwa besuk di kemudian hari ketika dia berperan sebagai mama akan meneladani mamanya yang dengan sukarela juga memberi ASI. Memberi ASI sama dengan memberi kehangatan dan perlindungan pada bayi, melatih kesabaran, karena tidak mungkin bisa memberi ASI tanpa berlaku sabar.