Minggu, 15 Januari 2012

3 s (Tiga S)

3 s singkatan dari senyum, salam, sapa. Semboyan ini saya baca dari dinding gedung kuliah. Semboyan ini pula mengingatkan saya pada keluhan seorang kawan yang merasa bahwa teman-temannya yang sudah memangku jabatan tertentu menjadi berbeda, tidak seperti dulu sebelum mendapatkan jabatan. Sejauh ini kawan saya masih terheran-heran dengan sikap beberapa temannya itu yang terasa lebih tidak ramah, hingga suatu hari dia terang-terangan menyampaikan isi hatinya dengan mengatakan

“Ibu Mawar (bukan nama asli) kog sekarang pelit senyum sih?”

Bu Mawar tidak merespon dengan senyuman atau dengan kata-kata tertentu. Dia hanya melotot seperti orang emosi seraya meninggalkan tempat dia bertemu dengan kawan saya.

Kawan saya tidak heran dengan reaksi temannya, yang justru mengherankan baginya adalah kenapa temannya itu masih tidak bisa membuka senyum barang sedikitpun. Barang kali aja senyum itu seberat berbagi harta dalam jumlah besar gumamnya. Hingga suatu hari Bu Mawar datang kepada kawan saya seraya bilang:

“Terima kasih Pak Telah mengingatkan saya untuk senyum”

“Nah gitu lho Bu, ada senyumnya, mosok baru jadi pejabat terus lupa senyum. Ntar kalau jabatannya lebih tinggi, pasti lebih mahal dong senyumnya”.

Penggalan kisah di atas merupakan salah satu contoh bahwa kadang kita melupakan jati diri kita yang sebenarnya sebagai makhluk yang humanis pada orang lain. Hanya atas nama kerja mencari uang kadang-kadang menjadikan kita lupa akan senyum. Bisa dibayangkan kalau lupa senyum, apa yang membedakan antara kita dengan robot. Jangan-jangan kita sudah menjadi robot dalam keseharian, sementara pada hari libur kita menjadi manusia kembali.

Ya wajarlah gelar robot melekat pada kita selama kita tidak membedakan diri dengan makhluk bikinan orang tersebut. Maka tidak berlebihan bila semboyan di atas mengingatkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari hendaknya kita peduli pada orang lain. Senyum merupakan cara yang paling dasyat untuk menjadikan suasana menjadi hangat dan akrab pada siapa saja. Saya yakin bahwa senyum tidak akan melunturkan wibawa seseorang, termasuk seseorang yang memiliki jabatan penting sekalipun. Kalau perlu, kita men-setting senyum untuk mengurangi beban kerja yang mesti diselesaikan.

Tidak berlebihan bila ajaran agama menjadikan senyum sebagai sedekah atau amal perbuatan positif yang konstruktif. Konstruktif bagi diri yang bersangkutan dan positif bagi orang lain.

Menurut penelitian Dr. Dewi Matindas (psikolog), seperti dimuat dalam http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2011/03/23/senyum-antara-menyehatkan-dan-tidak/, senyum merupakan pertanda bahwa seseorang siap dan terbuka untuk orang lain. Senyum ini juga menunjuk bahwa seseorang memiliki kemampuan interpersonal yang baik.

Senyum juga berdampak pada pengurangan tingkat stress, peningkatan pada kekebalan tubuh dan pastinya senyum menunujukkan rasa optimis dari pribadi yang bersangkutan. So, tersenyumlah.

Tidak ada komentar: